Rabu, 30 Oktober 2019

Pengalaman Wawancara Awardee LPDP

Oleh: dr.iChal | Dibaca kali
Sebelum bercerita hari H, saya ingin memaparkan sedikit mengenai persiapan.

Terus terang, wawancara menjadi momok dan membuat deg2an jantung. Agar sedikit tenang, saya berselancar menelusuri pengalaman wawancara awardee terdahulu, baik di blog maupun di yutub. Dari situ muncul gambaran kira-kira apa yang akan ditanyakan dan bagaimana situasi di ruang wawancara. Walaupun samar.

Sambil selancar, pelan-pelan saya mendaftar pertanyaan dari artikel yang terserak, dan menjawabnya sesuai dengan kondisi.

Tapi saya rasa, itu tak cukup, perlu uji nyali.

Untunglah ada teman memberitahu perihal aplikasi ini, discord. Yang sejatinya adalah aplikasi diskusi para gamer. Di discord kita bersimulasi, ada yang bertindak sebagai seolah-olah pewawancara, dan sebagai seolah-olah yang diwawancara. Lalu bertukar peran.

Pertama kali simulasi, sangat terasa kekurangan diri. Bahkan ada teman yang nyeletuk, saya orangnya terlalu polos.

Dan rutinitas discord dijalani hampir tiap malam, tiap jam 21 WITA.

Karena tinggal jauh dari Banjarmasin, 6 jam perjalanan, maka saya datang sehari sebelumnya. Mesti menginap. Syukurlah, akhirnya dapat RedDoorz yang dekat dengan KPPN Banjarmasin. Agar lebih tenang, sore H-1 saya cek lokasi. Sempat nyasar ke BPK wilayah, yang memang berdekatan.

Di hari H, saya datang lebih pagi, sejam dari jadwal di undangan. Begitu masuk, kita diminta presensi dengan barcode dari akun masing-masing. Pasca itu, dipanggil berurutan untuk verifikasi. Usahakan semua berkas dibawa, sesuai dengan ceklis. Ketinggalan satu, bisa membuyarkan ketenangan yang sudah mulai membalut jiwa. Dan ini benar-benar terjadi pada salah seorang teman. Dia lupa ngeprin detail datanya.

Jika berkas lolos, tinggal nunggu dipanggil. Untuk 2019, format wawancaranya agak beda. Pertama, tidak ada lagi LGD. Kedua, wawancara terbagi dua, wawancara 1 dan wawancara 2.

Pewawancara di W1 terdiri dari 3 orang, yaitu akademisi, psikolog, dan pihak LPDP, sedangkan di W2 cuma satu, tampaknya dari unsur pertahanan. Pastinya ga tau, karena saya ga nanyain latar belakang Bapaknya waktu itu.

Yang ditanyakan macam-macam, tapi intinya pewawancara ingin tahu seberapa serius kita mempersiapkan penelitian, seberapa membumi dan bermanfaat penelitian kita, seberapa tahu kita dengan negara atau universitas yang dituju, seberapa sanggup kita bertahan di negeri orang, seberapa cerdik kita sehingga kuliah bisa lulus ga pake telat, seberapa setia kita sehingga ga kecantol gadis atau pemuda asing sehingga lupa tanah leluhur, dan seberapa kuat rasa kebangsaan kita. Sebenarnya masih banyak seberapa lainnya .... tapi saya ga ingat lagi :) Mohon dimaafkeun.

Waktu itu, verifikasi berkas, wawancara 1 dan 2 diselesaikan dalam sehari. Konon di daerah lain, seperti Jakarta, ada yang selesai 2 hari.

Ga sampai sebulan, dengan penuh harap, saya membuka akun dan Alhamdulillah muncul tulisan, Selamat Anda Lulus Tes Substansi. Dan serta merta menyentuhkan kening ke keramik mesjid, sembari mengucapkan syukur.

Oh ya, hampir lupa, selama wawancara usahakan tetap hambel, jangan arogan, merasa puuiintar, kelewat ngeyel, atau suka ga sabaran lantas memotong pembicaraan pewawancara. Ini bisa jadi blunder yang akan tersesali.

Kisah di atas adalah sisi usaha, sisi doanya jangan dilupakan. Shalat malam, rajin sedekah, atau kalau perlu bernazar sesuatu.

Karena ...

Seberapa bagus pun persiapan, jika Allah ga mengijinkan, kita ga akan bisa lolos.

3 komentar: