Sabtu, 16 November 2019

Simplicity Laskar Pelangi

Oleh: dr.iChal | Dibaca kali
Empat belas tahun silam seorang teman membawakan saya sebuah novel. Waktu itu judulnya terasa asing, Laskar Pelangi. Menurut saya, plot ceritanya biasa saja, settingnya juga mirip dengan beberapa novel Indonesia umumnya, suasana natural pedalaman.

Dan saya mengira, seperti kebanyakan novel lainnya, nasibnya akan berakhir setelah beberapa edisi, dan perlahan hilang ditelan masa. Lalu untuk membersihkan gudang, diobral dengan harga 20 persennya. Di lapak belakang Sebuah Toko Buku.

Tapi rupanya pengiraan saya salah. Tiga tahun kemudian, novel ini difilemkan. Penontonnya membludak. Hebohnya heboh.

Layar lebar belum cukup. Perlahan novel Laskar Pelangi menembus batas negara, juga batas bahasa. Diterjemahkan ke puluhan bahasa asing. Bahkan ke bahasa yang ga pernah saya dengar namanya sebelumnya.

Mengiringi fenomena ini, saya bertanya dalam hati, kenapa bisa? Apa kelebihannya? Apa rahasianya?

Dan tanya ini tetap tak berjawab, hingga suatu waktu.

----

Pertemuan itu tak terduga. Rupanya Bang Andrea Hirata menjadi pemateri di Acara PK LPDP Angkatan 151. Adat di kegiatan ini, peserta tidak tahu siapa pemateri sampai mereka masuk ke Aula Pelangi Hotel Mercure Ancol.


Presentasinya memukau. Mata yang semula ingin memejam, berubah cerah laksana lampu LED 100 W.

Dan tibalah waktu bertanya. Setelah berkali-kali mengacung dan membuat gerak penarik perhatian, akhirnya mik berpindah juga ke genggaman.

Saya pikir Bang Andrea Hirata akan menjawab langsung. Rupanya tidak. Ia meminta Mbak, yang saya lupa namanya, tapi sepertinya penyanyi cukup terkenal di kalangan Generasi X, membaca sepenggal bagian dari Laskar Pelangi versi Bahasa Inggris, diiringi dengan petikan gitar memukau Sang Maestro. Seketika saya memahami bahwa kekuatan dari novel itu ada pada harmoni kata-katanya, dalam membentuk kalimat dan merepresentasikan makna.

Rupanya tebakan saya tak cukup. Juga tebakan teman-teman lainnya.

Setelah berteka-teki cukup lama, Bang Andrea Hirata akhirnya mengungkap kekuatan terselubungnya, simplicity.

Simplicity pada diksi, simplicity pada kalimat, dan simplicity pada alur.